E-book: Novel Jentera Bianglala

- September 09, 2017
E-book: Novel Jentera Bianglala, Omah1001
Novel Jentera Bianglala adalah episode terakhir dari  trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, pada cerita sebelumnya dikisahkan bahwa Dukuh Paruk menjadi karang abang lemah ireng pada awal tahun 1966 hampir semua dari kedua puluh tiga rumah di sana menjadi abu. Waktu itu banyak orang mengira kiamat bagi pedukuhan kecil itu telah tiba. Siapa yang masih ingin bertahan hidup harus meninggalkan Dukuh Paruk. Karena hampir segala harta-benda, padi, dan gaplek musnah terbakar, bahkan juga kambing dan ayam. Lalu siapa yang tetap tinggal di atas tumpukan abu dan arang itu boleh memilih cara kematian masing-masing; melalui busung-lapar atau melalui keracunan ubi gadung atau singkong beracun.

Dukuh Paruk menjadi tempat yang sangat memprihatinkan setelah sebelumnya terjadi bencana besar yaitu pembakaran rumah penduduk akibat kisruh 1965. Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban. Rumah dan harta benda semua habis terbakar, mereka harus tinggal dan makan seadanya. Orang-orang dari luar desa pun tidak ada yang memberi bantuan.

Dukuh Paruk kini tanpa pemimpin dan tanpa Srintil, orang yang selama ini menjadi panutan di Dukuh Paruk harus dipenjara. Meski, beberapa bulan kemudian Sakarya, Kertareja dan yang lainnya dibebaskan. Tetapi mereka pulang tanpa Srintil dan orang-orang dukuh paruk tidak ada yang menanyakan kemana dan dimana Srintil? Itu karena mereka tahu, Srintil masih ditahan di tempat yang Sakarya dan rombongannya pun tidak ketahui.

Hingga beberapa waktu berselang, Dukuh Paruk yang miskin, didatangi seorang pemuda yang gagah berseragam, yang ternyata adalah Rasus. Rasus yang masih mau peduli dengan tempat kelahirannya. Rasus masih seperti dulu, kedatangannya kembali untuk menjenguk neneknya yang kritis, dan tak lama kemudian nenek meninggal dunia. Rasus pun harus kembali menjalankan tugasnya, tetapu sebelum pergi, Sakarya meminta bantuan Rasus untuk membebaskan Srintil.

Tak lama Srintil pun bebas dan kembali pulang ke Dukuh Paruk, Ia pulang dengan berjalan kaki. Sejak kepulangannya, sikapnya berubah, ia lebih banyak diam. Walaupun sudah keluar dari tahanan, Srintil masih tetap harus melapor ke tempat dimana ia ditahan. Srintil mulai bisa tersenyum ketika melihat Goder, anak Tampi. Srintil memutuskan untuk mengasuh Goder.

Namun, kisah getir kembali menimpa Srintil. Begitulah hidupnya, seolah tak pernah berhenti ditimba musibah. Kisah ini bisa anda baca secara lengkap dengan mengunduhnya DI SINI