Merawat Akal Sehat

- September 08, 2017

Minggu pagi, 3 September kemarin saya yang bersama keluarga main ke Taman Merdeka Kota Metro, karena menghindari kemacetan kami memilih memarkir kendaraan di halaman belakang Masjid Taqwa, yang memang menjadi tempat parkir. Tanpa sengaja, di saat saya hendak memotret Tugu Pena dari balik pagar masjid, tercium bau tak sedap seperti bau kotoran manusia, dan benar segepok tinja nongkrong tanpa adab di bawah pohon dekat pagar.

Sinting, tak waras! Begitu komentar pertama, yang saya lontarkan atas perilaku tak beradab si empunya kotoran tersebut.  Mana mungkin, akalnya sehat, dengan perbuatan yang tak logis dan beradab begitu. Memilih nongkrong dan membuang kotorannya di bawah pohon tempat banyak orang berlalu-lalang, fatalnya lagi pohon tersebut berada di area masjid, dan masjid juga menyediakan toilet.

Fenomena tersebut menjadi satu contoh kasus, di antara banyaknya kasus-kasus lain yang menunjukkan kegagalan manusia untuk bertahan menjadi manusia waras, manusia yang paham di mana seharusnya menempatkan sesuatu "yang kotor"  sehingga bisa menjadi "yang baik" karena mampu menjaga nilai-nilai keadaban.

Apakah ada gelap? Tanya Einstein suatu hari. Gelap tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.

Kemudian Albert Einstein yang jenius itu melanjutkan, seperti halnya gelap, kajahatan itu sebenarnya tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

Manusia pada dasarnya dibekali akal dan kewarasan yang sama. Al-Qur’an menyebut istilah akal sebanyak 49 kali. Kata kerja ta’qilun diulang sebanyak 24 kali dan kata kerja ya’qilun sebanyak 22 kali. Sedangkan, kata kerja ’aqala, na’qilu, dan ya’qilu masing-masing terdapat satu kali. Dalam Lisān al-‘Arab disebutkan makna kata ‘aql adalah al-ḥijr (rasio) dan an-nuhā(kecerdasan) lawan dari kebodohan. Berasal dari kata ‘aqala ya‘qilu ‘aqlan wa ma‘qūlan.

Menariknya, penggunaan bentuk pertanyan negatif (istifham inkari’) yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat seperti kata afala ta’qilun diulang sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Perbuatan manusia yang bertentangan dengan pengetahuannya dan bertentangan dengan perintah yang Ia berikan kepada orang lain, tidak akan timbul kecuali dari orang yang tidak lurus pemikirannya serta tidak matang akalnya. 

So, kecerdasan atau ukuran berakal atau tidak berakal tidak melulu diukur dari kepandaian berdialektika dan beretorika (ucapan), melainkan juga diukur dari sikap dan perbuatan, kepandaian menempatkan diri, ucapan dan segala hal pada saat dan tempat yang tepat.

Maka pertanyaan afala ta'qilun (maka tidak lah kamu berakal?) selalu terkait dengan sikap, seperti dalam QS. 2: 44; “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berakal?"

Jika polahmu buruk dan biadab, maka barangkali bukan karena kamu tidak berakal, melainkan hatimu terlalu sumpek, hingga Tuhan tak betah di situ. Tuhan tiada bersamamu?

Selamat Hari Aksara
Selamat Membaca
Selamat Menulis
Advertisement