Menulis Setiap Hari

- September 15, 2017
Dulu, ketika saya terbiasa menulis setiap hari, ada banyak yang bertanya via inbox facebook, sebagian lagi bertanya langsung, "apakah saya mengharuskan diri menulis setiap hari?" Jawabnya, "Tidak!"



Saya tidak pernah mengharuskan diri saya untuk melakukan apapun, sekali lagi apapun, termasuk menulis. Dan, saya tentu saja saya tidak suka, tatkala ada orang lain yang juga mengharuskan saya, wong saya sendiri tak mau mengharuskan diri sendiri. Ibarat kata Om Jalaluddin Rumy, orang yang menginginkan kebebasan tidak akan pernah mengikatkan diri. Jadi kalo mau menulis ya, menulis saja.

Lalu, bagaimana saya bisa disiplin menulis? Saya suka! Untuk itu, menulis tidak pernah menjadi keharusan yang membebani saya, melainkan sebuah kesenangan.

"Bagaimana dengan kualitas tulisan? Apakah kualitasnya tidak menurun kalau menulis setiap hari?" Menulis itu tidak sama dengan mengeluarkan sperma, yang jika dikeluarkan setiap hari kualitasnya menjadi tidak baik. Jadi tak perlu khawatir, menulis tak akan pernah membuat staminamu turun dan kualitas tulisanmu menjadi jelek.

Namun sebenarnya, saya juga tak terlalu peduli soal mutu, subyektif banget! Karena banyak yang teramat peduli dengan mutu tulisannya, menjaga kedalaman pesan kata perkata, maksudnya setiap paragraf dibuat sarat makna, filosofis dan mbelegedes lainnya, ujung-ujungnya tulisan tersebut tidak selesai, atau selesai tapi tak dibaca orang karena terlalu rumit untuk dimengerti.

Makanya, dalam setiap tulisan, bagi saya yang terpenting adalah pesan yang hendak disampaikan. Harapannya ada orang yang membaca, dan orang itu mengerti. Akhirnya tulisan itu memiliki dampak. Contoh, saya menulis soal trotoar yang diserobot para pengusaha, seperti perbankan, toko-toko ritel dan lainnya, harapannya pemerintah mengerti pesan yang hendak disampaikan, bahwa  seringkali yang merampok ruang-ruang publik bukan hanya pedagang kaki lima (PKL) tetapi pemilik modal dan usaha-usaha besar.

Contoh lain, saya menulis soal Perda Kota Metro No. 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Kota, bahwa ada banyak perizinan pembangunan di Kota Metro yang dikeluarkan oleh pemerintah, yang melanggar Perda tata ruang. Pelanggaran itu bisa dilihat dari pembangunan yang mengabaikan pembagian zonasi,  verifikasi ketat soal analisis dampak lingkungan, dampak lalu lintas, ketersediaan lahan parkir bagi usaha tersebut, dan beberapa pelanggaran lainnya sebagaimana tertulis dalam Perda tersebut.

Pesan yang ingin saya sampaikan dan tegaskan dalam tulisan tersebut, sesungguhnya bukan hanya wong cilik yang sering melanggar Perda, tetapi justeru pemerintah yang membuat Perda itu pun terlalu sering melanggar Perda. Tetapi faktanyapenegakan Perda hanya berlaku-tegas ke bawah, sedangkan melempem ke atas, seperti kerupuk tersiram air.

Apakah pesan tulisan ini sampai dan dimengerti, bahkan sangat mengerti? Tentu saja, buktinya beberapa pejabat langsung melakukan pembelaan dengan mengatakan: "Oh, iya. Perda tata ruang kita memang tidak sesuai lagi dengan pembangunan dan tuntutan pembangunan, untuk itu Perda itu akan segera kita revisi dan sesuaikan dengan pembangunan yang sedang berlangsung!" Nah, kan?

Kembali ke soal menulis, sekali lagi tujuan utama saya menulis selain menyalurkan kesenangan, adalah ingin menyampaikan pesan. Apapun dan bagaimanapun bentuk pesan itu, marah, kritik atau bahkan pujian. Dan, yang terpenting sebagai penulis harus bisa mempetanggungjawabkan isi tulisan, biar tidak kebiasaan asal ngoceh termasuk tak perlu merasa was-was terhadap resiko yang timbul dari tulisan itu jika benar dan berdasar (memiliki argumen yang kuat), selalu ingat pesan senior, ”jika takut jangan berani-berani, jika berani jangan takut-takut!"

Ya. menulis bagi saya adalah melepaskan diri dari segala rasa ketakutan. Menulis adalah merdeka dan bebas, termasuk bebas dari ketakutkan untuk dikatakan tulisanmu jelek, tulisanmu sampah, tulisanmu tak layak, dan penghinaan-penghinaan lain. Tak takut!

Kebebasan menjadi prasyarat utama menulis, sebelum persyaratan-persyaratan lainnya. Orang yang menulis dengan penuh rasa was-was dan takut, tidak akan pernah melahirkan tulisan yang jujur.

Maka menulislah setiap hari dengan penuh kebebasan, sebagaimana engkau bertutur. Menulislah dengan sangat rasa senang, meski yang kamu tulis itu adalah kepedihan. Jika engkau sanggup berbicara baik, maka belajarlah menulis baik. Bukankah semua yang diucapkan itu semuanya bisa ditulis, apalagi memang memiliki pesan penting. "Menulis adalah bekerja untuk keabadian," ujar Kakek Pram.