Mengisahkan Awal Mula Metro Photography (Bagian 1/4)

- September 25, 2017
Dulu sekali, di awal tahun 2014 menjadi momentum yang sangat menyenangkan bagi saya, bukan karena saya memuncaki karir di mana saya mengabdi dan bekerja, bukan pula karena saya lepas menjadi 'kontraktor' karena telah menempati rumah sendiri (meski beli nyicil alias rumah kredit), melainkan awal tahun 2014 itu adalah awal saya berganti kamera dari pocket ke SLR, dan berkenalan dengan anak-anak muda yang gokil, sebuah dunia baru tentunya.

Lewat kawan dari Tulang Bawang Barat, Ansyori Aan dan Danismore saya akhirnya kenal dengan Andika Dhesta Felano, Muhammad Iqbal, Pendi Noris dan Yudi SF mereka adalah yang awalnya mengawaki Cendana Photograph. Cendana diambil dari nama gang Cendana di daerah 16c Mulyojati, tempat tinggal Pendi Noris, tempat mereka berkumpul yang juga akhirnya menjadi tempat pilihan saya nongkrong setelah ngantor.

Saya yang kala itu baru punya kamera SLR (Canon 60D dengan lensa standar 18-55 mm) tentu memiliki tingkat kerumitan memaksimalkan fungsi kamera saya, sehingga hasilnya kalah bagus dengan hasil jepretan kamera hape apalagi kamarea pocket. Jangankan untuk mengerti blur, komposisi, dan hukum fotografi yang rumit itu, mengatur diafragma, ISO dan speed saja saya tak bisa. Jadilah, mode auto sebagai pilihan instan dan favorit setiap kali event motret bareng.

Sebenarnya, ada banyak orang yang sepertinya bernasib sama denganku, mengambil jalan pintas mode auto, hal itu terlihat menjelang sore, beberapa anak remaja yang hilir mudik menenteng kamera di Taman Kota, sinar flash yang menyambar seperti cahaya kilat menunjukkan bahwa mereka juga sebenarnya butuh belajar dan dikasi tahu cara memaksimalkan DSLR mereka.

Dari situlah ide awal, rencana Workshop Photography pertama di Kota Metro, memilih tema ringan "Memaksimalkan Kamera DSLR", Dhika Desta didapuk menjadi Ketua Pelaksa Kegiatan Workhshop yang diadakan di almarhum "Gedung Wanita". Soal dedikasi, pengorbanan, militansi dan loyalitas dari Ketua Panitia penyelenggara, rasanya tak perlulah saya jabarkan secara detail, memori atau ingatan yang bagus, pasti akan mengingat itu dengan baik, bahwa ada banyak fotografer yang memulai karir fotografinya hingga sukses, adalah mereka yang bersama lahir dari acara itu.

Bertemu dengan geng Cendana, memang menjadi awal dan akhirnya sedikit demi sedikit membuat saya mengerti mode manual dan tentu saja workshop tersebut ditambah manual book yang didapatkan sepaket dengan kamera yang saya beli, dari mereka juga saya akhirnya paham bahwa sudut pengambilan (angle) sangat menentukan, singkatnya dari merekalah saya belajar soal foto, termasuk soal filosofinya.

Anggapan para fotografer yang angkuh, mereka patahkan dengan cara bergaul dan sikap yang guyub, saya pun akhirnya tak sungkan untuk membaur, selepas Ashar hingga menjelang Magrib, bercelana pendek sembari nenteng kamera, ikut nongkrong di perempatan Taman Kota, memotret setiap obyek yang bergerak atau cewek cantik yang terjebak lampu merah.


Bersambung ...