Keseimbangan

- September 27, 2017

Segala hal yang tak seimbang, dilihat saja tak indah apalagi dijalani. Tak percaya, cobalah anda berjalan dalam posisi berat sebelah atau miring-miring. Tak enak bukan?

Keseimbangan biasanya dijaga dengan dua hal, pertama, kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. Kedua, terus bergerak dan melaju. Cara ini biasanya dilakukan oleh pesepeda, berhenti biasanya menjadi lebih sulit untuk menjaga keseimbangan dalam jangka waktu yang lama.

Dalam ajaran Tao, keseimbangan sebagai salah satu yang menduduki posisi tertinggi di antara kaidah-kaidah yang ada. Keseimbangan yang dimaksud, tidak sekadar memperlihatkan adanya perimbangan dari dua hal saja atau yang bersifat materi saja, melainkan lebih luas berkaitan dengan konsep kealamiahan, keteraturan semesta hingga segmen terkecil, irama alam di mana manusia terlibat untuk menjaganya.

Keseimbangan alam semesta adalah  hukum keseimbangan universal. Alam akan mengoreksi ketidakseimbangan apapun baik mikro maupun makro, kekecauan-kekacauan yang terjadi di sekitar kita, adalah koreksi atas ketidakseimbangan yang berlangsung, meski manusia tak menyadari bahwa pemicunya adalah mereka yang gagal menjaga keseimbangan itu.

Gempa, banjir atau kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan adalah salah satu contoh bahwa semesta tak berjalan seimbang. Kejahatan, seperti perampokan, pencurian, pemerkosaan,  korupsi dan kejahatan yang lain, juga adalah koreksi atau ketidakseimbangan yang terjadi.

Kekuatan keseimbangan, dalam proses penyeimbangannya jika ada suatu gejala yang mengarah ke keadaan tidak seimbang tidak pernah pandang bulu, ia mengkoreksi sebesar apapun gejala dan dampaknya, dalam upaya mengembalikan keseimbangan itu, semuanya berjalan secara alamiah.

Dalam kehidupan bermasyarakat, semua orang mempunyai fungsi dan peran sosialnya masing-masing, walau sekecil apapun peranan tersebut. Kehidupan masyarakat yang seimbang dapat dibayangkan sebagai kehidupan masyarakat yang tumbuh secara bebas dan positif, penuh dengan keragaman dan dinamika, dalam suatu keteraturan yang serasi dan harmonis.

Sebaliknya, munculnya gejolak dan kekacauan, protes dari pedagang kecil, teriakan yang mengganggu stabilitas dari rakyat miskin bisa ditunjuk sebagai salah satu bentuk ketidakseimbangan kehidupan masyarakat, orang kaya tidak mendistribusikan secara seimbang kekayaannya, pemerintah juga tidak menata ruang secara adil dan proporsional bagi dunia usaha, atau bisa jadi kebijakan juga sengaja dibuat tak seimbang atau lebih memihak (berat sebelah).

Secara mikro, ketidakseimbangan itu juga bisa berbentuk karena akal dan mulut tak linear, teori-pengetahuan dan berbanding lurus dengan tindakan, sehingga kadang yang keluar dari mulut menuai kekacauan yang akhirnya menjadikan pemilik ujaran linglung, mencipta hoax, yang pada akhirnya membuat ia kehilangan keseimbangan, kehilangan normalitas.

Maka, pesan yang ingin saya sampaikan dalam Kopi Pagi kali ini, jika dalam kehidupan kita berjumpa dengan kekacauan dan kerusakan atau segala hal yang terjadi tak sesuai ekspektasi (idealita) kita, jangan buru-buru menunjuk atau menyalahkan orang lain, cobalah ajukan pertanyaan "adakah yang tak seimbang?" terlebih dahulu.

Jika tubuhmu gampang sakit? atau tatkala hatimu sering tak tenang? Pikiranmu selalu labil dan galau? Usahamu tak memuaskan? Barangkali ada yang tak seimbang.


Keseimbangan itu penting, agar kau tak jatuh.