Kentut

- September 22, 2017

Pernah mendengar kalimat "Cantik-cantik kok kentut!" atau "Cantik-cantik kok kentutnya bau!"

Kalimat di atas sepintas lalu memang tampak tak bermasalah, kecuali jika kita mau memikirkan ulang dan merenungi maknanya lebih serius, maka kita akan menemukan pernyataan 'diskriminatif' yang mengesankan bahwa orang cantik itu tak pantas kentut atau pun jika terpaksa harus kentut, maka kentutnya tak boleh bau. Pernyataan mafhum mukhalafah (kontradiksi)nya adalah yang pantas kentut dan kentutnya bau itu hanyalah orang-orang jelek. Sadiskan!

Saya pernah lihat sebuah acara reality show yang menampilkan semacam social expriment”, di sebuah tangga lift dibuat semacam suara kentut bohongan, kemudian diamati bagaimana respon dari orang-orang yang mendengarnya. Percobaan itu dilakukan berkali-kali, dengan berganti pemeran dan targetnya. Hasilnya, sikap orang agak diskriminatif. Kalau suara kentut itu sumber suaranya berasal dari cewek cantik dan seksi, mereka seolah-olah tak percaya. Kalau suaranya bersumber dari cewek gendut, ekspresi orang-orang seperti menuduh dia yang kentut.

Pengalaman yang hampir mirip juga pernah saya alami sekitar 10 tahun yang lalu, ketika masih sering ke luar masuk kampus negeri pavorit di Bandarlampung, tak jarang saat kongkow di kantin kampus bersama kawan-kawan, saya mendengar celetukan "cantik-cantik kok dari Metro!" atau "cantik tapi kok asalnya Metro ya?" Pernyataan yang mengesankan bahwa orang cantik itu tak pantas berasal atau tinggal di Kota Metro, Kota Metro tempatnya orang jelek dan culun. Namun, tenang saja. Itu dulu, ketika Kota Bandarlampung masih keren, sebelum tertinggal jauh dari Kota Metro, seperti sekarang ini.

Tertinggal jauh? Ya, iyalah. Di tinjau dari segi apapun Bandarlampung telah tertinggal cukup jauh dari Kota Metro, mulai dari keamanan dan kenyamanan jelas Kota Metro berada di posisi depan sembari melambaikan tangan, soal tempat tongkrongan, Bandarlampung mana punya ruang publik atau tempat terbuka hijau seperti Taman Merdeka Kota Metro yang terintegrasi dengan tempat ibadah. Cafe yang ngehits dan kekinian, Bandarlampung memang gudangnya cafe dan resto, tapi mana ada yang seperti Bejo's Milk tempat nongkrong banyak komunitas, jikapun maksa untuk diakui, Bandarlampung hanya punya Waroeng Nongkrong tempat para pecinta bola dan komunitas Stund Up Comedy. Jadi, tak bakal bisa lagi mereka bicara "cantik kok dari Metro!"

Eh, kembali ke soal kentut. Sebenarnya tak ada korelasi jelek dan gendut dengan kentut, bahwa yang benar itu adalah cewek seksi dan cantik, cowok ganteng dan gagah tetap juga kentut. Bahkan, bisa jadi artis-artis cantik yang sedang show atau konser, macam Raisa atau Via Vallen artis dangdut yang sadang tenar itu, di tengah-tengah aksi panggungnya dan sorak-sorai penonton, kentut lho, hanya barangkali karena hingar-bingar suara musik, suara sound effect kentut menjadi tersamarkan, tapi baunya tetap menyebar. Mungkin loh ya!
Siapa sih yang mampu berkompromi dan menstabilkan situasi perut, ketika memang angin yang konon menyehatkan jantung (sekali lagi konon loh) itu mendesak untuk keluar!

Sebelum mengakhiri tulisan Kopi Pagi ini, soal kentut ada sebuah guyonan yang sebenarnya sudah populer tetapi saya berharap tetap lucu dan menarik buat anda, bahwa ada sejumlah orang dari berbagai negara terjebak di dalam suatu lift cukup lama. Saking lamanya, salah seorang dari mereka yang sedari tadi menahan kentut, tak kuasa lagi untuk menahannya, sehingga ia terpaksa kentut, terus dia bilang, “pardon me.” Ternyata, dia tak sendiri, keberaniannya memulai diikuti oleh yang lain, yang juga tak kuasa menahan, orang tersebut pun kentut dan bilang, “excuse me.” Ada lagi yang kentut daan berkata “forgive me.” Terakhir ada orang Indonesia yang kentut, lalu buru-buru bilang “not me …” Dan ternyata orang Indonesia itu kentut tak cukup sekali, kali ini suaranya jauh lebih keras. Karena terlanjur tak bisa ngeles lagi, akhirnya dia bilang, “follow me ….”


Terakhir, saya benar-benar ingin mengakhiri kentut ini dengan pesan bahwa, jangan karena orang cantik dan seksi, maka anda memberi kesimpulan bahwa dia tak pernah kentut, tak pernah berak atau menganggap tinja-nya wangi dan selalu sempurna. Pun, sebaliknya jangan hanya karena kebetulan ayam, anda tak sudi mengambil telurnya dan lebih memilih telur yang keluar dari pantat manusia. Jangan, hanya karena cinta dan kekaguman berlebihan, anda menjadi tidak waras menilai. Jika punya otak terlanjur ngotak, minimal mata, telinga dan hidung tetap berfungsi ya! Entut ya Entut!!

Tetaplah menjadi manusia dengan bersikap manusiawi kepada sesama.