E-book: Esai, Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi

E-book: Esai, Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi, Omah1001
Dalam buku Memasak Nasi Goreng tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2014, kita menemukan harapan sastra Indonesia belum mati. Setidaknya ia memberikan harapan bahwa ruang apresiasi, kritik, dan perdebatan sastra masih ada dan terbuka lebar.

Buku ini mencatat beberapa penulis yang memang konsisten melakukan kritik dan apresiasi sastra. Seperti Bandung Mawardi, Sunlie Thomas Alexander, Sulaiman Djaya, Martin Suryajaya, Endiq Anang P, Ita Siregar, dan M Irfan Zamzani. Mereka menulis dan melakukan apresiasi terhadap karya sastra dengan serius. Melalui pembacaan menda¬lam dan analisis yang tajam.

Pemenang kritik sastra tahun lalu, Martin Suryajaya, melakukan telaah serius terhadap buku Bilangan Fu karya Ayu Utami. Ia mengoreksi hampir keseluruhan ide dan pemikiran filsafat dalam buku itu yang dianggapnya kurang tepat dan memi¬liki banyak kejanggalan. Martin menyebut buku Ayu sebagai “novel-diktat”, novel yang narasi puitiknya berulang kali dipotong oleh paparan ala diktat kuliah dan terbebani oleh teori-teori.

Endiq Anang membedah buku puisi Nirwan Dewanto Buli-buli Lima Kaki. Endiq berusaha membedah habitus, kapital, dan field dalam paradigma strukturalisme Bourdieu. Menurutnya, ada usaha mikikri puisi-puisi itu dengan epos Yunani. Ia mem¬bandingkan sosok penyair Nirwan dengan Minotaur, Theseus, yang ada dalam khazanah Yunani klasik.

Munculnya buku ini adalah upaya memba¬wa pembacaan sastra menjadi satu hal serius. Ketika kritik sastra bukan sekadar memuji “bagus” atau “keren”.

Masih banyak kritik yang indah, lugas, jernih, dan bernas dalam buku ini. Namun satu narasi yang bisa dipetik adalah usaha untuk mendekatkan sastra kepada pembaca. Sastra seharusnya bukan barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. (Sumber Sinopsis ini diperoleh dari  http://geotimes.co.id/kritik-sastra-indonesia-belum-mati/)

Untuk membaca buku lengkapnya DI SINI

0 komentar