Simulacra dan Penyamaran Bandot Tua

- August 29, 2017
Wahidin berjalan di sebelah Sari seolah tanpa semangat, lesu dan kelihatan murung. Padahal suasana hari itu sebenarnya cukup sejuk. Matahari memang mulai meninggi dan cukup terik, namun perdu Mahoni yang tumbuh berjejer sepanjang jalan utama cukup untuk melindungi mereka dan para pejalan kaki.

Sejak pagi menyusuri kota kelahiran mereka, memang cukup membuat lelah. Namun, Sari yakin bukan itu yang membuat Wahidin tak bersemangat dan tampak murung, karena Wahidin lah yang merencanakan keliling kota, untuk mengenang masa-masa kanak-kanah hingga mereka tumbuh menjadi remaja. Bertemu kali pertama, pacaran dan bolos sekolah hanya untuk nonton film India di Bioskop Nuban.

"Kamu, kenapa Din?" Penasaran Sari dengan Sikap Wahidin.

"Aku sedih Sari, kota ini sudah sangat maju, tetapi seakan berbarengan dengan derasnya kemajuan yang dicapai begitu deras pula setiap memori dihapus. Dulu, semasa kecil aku biasa mengaji di Masjid Taqwa, namun meski namanya tak berubah tak ada lagi bekas tapak-tapak kecil kami di ubinnya, yang muncul adalah masjid baru," Wahidin menjawab pertanyaan Dinda.

"Bukan hanya itu, kita yang dulu bermain di kali, tertawa riang berkejaran di Taman Kota selepas mengaji kini tak mungkin lagi. Ruang kanak-kanak kita telah dirampas oleh orang-orang dewasa. Bahkan masa-masa remaja yang kadangkala kita habiskan di tempat-tempat bermain seperti Dingdong yang ada di Shopping, Bioskop Nuban Ria, Bioskop Chandra bahkan Taman Parkir kini sudah tak ada lagi, dan tragisnya kita tak menyimpan selembar foto itu untuk menjadi bukti ketika suatu waktu kita bercerita terhadap anak-anak kita," lanjut Wahidin

"Iya sih, tapi itu konsekuensi yang tak mungkin dihindari untuk kebaikan warga dan kemajuan kota."

"Kemajuan kota, mungkin! Tapi, untuk kebaikan warga? Benarkah ruko-ruko yang berdiri megah itu untuk kebaikan warga kota? Toko-toko ritel itu untuk kebaikan warga? terus dimana tempat warga nonton film sekarang? Benarkah pedagng dan warung-warung warga sekarang masih bernasib baik paska menjamurnya toko-toko modern itu?" seru Wahidin

"Ah, tak usah terlalu serius Din!"

"Aku kasihan saja, jangan-jangan kota ini hanya seolah-olah maju. Seolah-olah kota pendidikan, seolah-olah ya seolah-olah. Saya jadi ingat apa yang pernah ditulis oleh Fukuyuma di bukunya The End of History and The Last Man, bahwa ada banyak realitas sosial yang semu, realitas yang seolah-olah , seolah-olah demokratis, seolah-olah partisipatif, seolah-olah sejahtera, seolah-olah maju dan modern tetapi isinya kropos dan kosong." Suara Wahidin agak meninggi.

"Iya, Din. Fenomena tersebut disebut oleh Jean Baudrillard dengan istilah Simulacra yakni fenomena yang tak lebih dari sekadar iring-iringan tiruan atau model-model realitas yang tidak berkaitan sama sekali dengan realitas sesungguhnya, atau dalam istilah Yasraf Amir Piliang sebagai momentum dimana kebenaran (truth) diambil alih oleh kebenaran-kebenaran yang bersifat fiktif, retoris dan palsu (pseudotruth), di dalamnya perbedaan antara benar dan salah, kenyataan dan ilusi dibuat menjadi samar-samar, kebenaran tidak bisa lagi dibedakan dengan topeng kebenaran."

"Sari, kamu bisa bayangkan, penguasa yang sebenarnya lebih layak dicurigai menyimpang karena mengelola uang rakyat, bisa setiap saat menuding rakyatlah yang layak dicurigai, sumber kejumudan, kekumuhan dan keterbelakangan dari sebuh kota. Seolah-olah rakyat yang tidak menyetujui pemerintah hanya membangun gedung tetapi mengabaikan kebutuhan dasar warga kota, bisa dituding sebagai anti pembangunan!"

"Padahal kan wajar saja rakyat jika bertanya, pembangunan itu sebenarnya untuk siapa? Jika untuk warga, kok sepertinya warga tidak teramat butuh gedung pertemuan yang menghabiskan anggaran hingga puluhan milyar rupiah itu. Warga butuh trotoarnya bagus, drainasenya tidak tersumbat karena bisa mengakibatkan banjir jika hujan deras." Sari menimpali

"Persis! Dunia dibentuk oleh permainan citra (game of image), retorika serta trik pengelabuan informasi. Menggunakan topeng-topeng kesucian ketika berada di tempat suci, kedok-kedok kerakyatan ketika berada di tengah-tengah rakyat, kamuflase demokrasi ketika berada di tengah massa. Sok lugu dan bego jika diprotes, tetapi sebenarnya cuek dan masabodo dengan keluhan rakyat!"

"Bandot tua!" Spontan Wahidin dan Sari berseru.

"Bandot tua ini sebenarnya adalah simulacra yang menciptakan citra-citra palsu melalui tiga mesin. Pertama, mesin simalacrum (simalacrum machine). Mesin yang memproduksi model realitas yang sepintas tampak nyata. Realitas disembunyikan di balik citra realitas (image of reality), sehingga antara “model” dan “kenyataan” tak dapat lagi dibedakan. Mesin ini biasanya menciptakan skandal dengan rencana dan skenario yang matang, salah satunya adalah dalam bentuk “serap aspirasi” dan “musrembang” yang direkayasa sebagai praktik demokrasi-partisipatif. Membangun tetapi sebenarnya menghancurkan! Kamu ingat yang kedua, melalui apa Sari?"

" Melalui mesin kepalsuan (pseudo machine). Mesin ini memproduksi iklim kepura-puraan (pseudo) atau seolah-olah (as if), biasanya hal ini sering terjadi dalam dunia pertelevisian kita, artis A seolah-olah ribut dengan artis B, kepentingannya untuk menaikkan rating, atau menarik perhatian penonton untuk mengikuti sinetron atau film tertentu. Nah, di kota kita mesin kepalsuan ini ada banyak kejadian seolah-olah, zona bebas korupsi, pembentukan “saber pungli” adalah beberapa di antara yang bisa disebut, sebagai sesuatu yang dibentuk untuk mengesankan seolah-olah memang tidak ada pungli, karena setelah sekian lama terbentuk tak ada yang ditangkap. Padahal, mulai dari urusan seragam sekolah, setoran proyek, setoran untuk posisi jabatan tertentu hinga posisi sekolah, lancar-lancar aja tuh." ujar Sari.

"Jadi, maksudnya adalah bentuklah saber pungli, dan pungli jalan terus! Jika tak ada yang ditangkap, maka artinya seolah-olah tak ada pungli! Ingat loh ya, seolah-olah!!" Wahidin menegaskan.

"Akur Din," Sari menepuk bahu Wahidin, sembari mengajaknya mampir beristirahat di Kedai Kopi di Pojok Taman Kota.

Mereka memesan dua cangkir kopi dan dua porsi roti bakar.

"Oh ya Sari, citra palsu ini dikukuhkan melalui mesin ketiga yang tak kalah berbahayanya. yaitu mesin disinformasi (disinformation machine). Mereka memproduksi distorsi informasi dan informasi yang dipelintir (twisting of meaning), Jadi mereka akan tampil di media dengan kesan yang sangat baik, sembari mengamcan mendia-media yang kritis dengan ancaman stop berlangganan, stop iklan! Maka tambah jadilah dunia dibuatnya jungkir balik!!" ujar Wahidin

"Yah, namanya punya kuasa. Mereka punya segalanya untuk bisa selalu mencitrakan diri positif, baik, suci dan demokratis. Dan orang-orang miskin tetap setia menjadi penonton dengan segala decak-kagumnya atas kepiawaian dan atraksi permainan-permainan yang melampui realitas kehidupan, mereka nikmati sebelum akhirnya mereka meringkuk kedinginan di atas jalanan kota yang keras atau di balik bilik gubuk di pinggiran kota."

"Begitulah. Namun, mereka perlu ingat! Sehebat apapun mesin-mesin yang bisa menciptakan realitas semu dan kepalsuan-kepalsuan tersebut, mereka tetaplah manusia-manusia yang sewaktu-waktu tersudut pada ruang-ruang sunyi, pada jerit tangis tanpa suara, dan pada ruang rindu yang menagih kenyamanan batin, kebahagian dan kesejatian, bahwa senja pasti akan tetap menyapa jua, di mana sesal bergumpal-gumpal dan topeng tak lagi perlu dan layak pakai. Pertanyaannya, masih berlaku atau telah telat? Bukankah, jabatan juga pasti ada akhir masanya?"

"Bandot tua semestinya bertobat, bentar lagi lebaran haji. Berhentilah menjadi simulacra! Wahidin geram, tetapi perlahan kemurungan di wajahnya mulai menghilang. Ia menatap Sari yang memegang erat tangannya.

Tak lama pesanan mereka pun tiba, lagi Pak Tua dari Iwan Fals mengalun pelan dari musik di sudut ruangan kedai kopi siang itu.







Advertisement