Si Kecil yang Dihimpit Pengusaha Perut Besar

- August 27, 2017

Sinar matahari tak lagi terik, pohon-pohon mahoni yang berjejer rimbun sepanjang jalan utama Kota Metro, membuat para pesepeda merasa nyaman mengayuh sepedanya mengelilingi kota, Kota Metro sedang tumbuh dan bergeliat. Tampak beberapa bangunan ruko saling kejar menambah ketinggian dan melebarkan diri, serta tak ketinggalan merias wajah dengan modal tak sedikit.

Geliat pertumbuhan minimarket yang berjejal sepanjang jalan-jalan utama, AH. Nasution, Soekarno-Hatta, Sudirman, AR. Prawiranegara, Ahmad Yani, Sudirman, Diponegoro dan Basuki Rahmat, telah cukup membuat sesak nafas para pengusaha kecil seperti Pedagang Kaki Lama (PKL), tak sedikit kios-kios kecil yang kemudian mati karena kehabisan nafas, tak siap bersaing dengan pengusaha ritel bermodal besar.

Laju pertumbuhan dan pembangunan di Kota Metro tidak selalu berbanding lurus dengan keceriaan warga kota, beberapa gerobak bekas kios teronggok-lapuk di sudut-sudut mini market, tak jelas kemana pemiliknya dan apa usahanya setelah berhenti menjadi pedagang kaki lima.

Beberapa pedagang yang masih bertahan di pojok RSUD. A. Yani mengeluhkan dagangannya yang hanya laris ketika menjelang tengah malam, di saat toko-toko ritel sudah tutup, itupun pembelinya dari keluarga pasien rumah sakit. Sudah mengeluh begitu, mereka pun setiap saat siap-siap terusir, karena sudah beberapa kali mendapatkan surat peringatan untuk segera hengkang dari sekitar itu.

Gelombang liberalisasi yang merasuk ke dalam negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, begitu terasa di Kota Metro, menggulung pengusaha kecil tanpa ampun. Keberadaan Indomaret dan Alfamart dikelola oleh para pedagang berperut besar (baca: pengusaha menengah ke atas), sementara kios-kios kecil, yang hanya mengandalkan gerobak sebagai tempat jualan, diisi oleh rakyat kelas usaha mikro menengah-bawah, bahkan ada sebagian diantaranya hanya sekedar berjualan untuk sekedar melepas uang makan dalam sehari.

Dilema Kota

Perkembangan tumbuhnya minimarket dan ritel, berindikasi pada runtuhnya dinding segmentasi antara kenyamanan berbelanja di ruang ber-ac dan harga murah di kios-kios kumuh. Bahkan, beberapa harga barang di minimarket dan supermarket mulai bersaing dengan harga di pasar tradisional, kios-kios dan lapak-lapak pedagang kaki lima. Akibatnya, pengunjung atau pembeli sebagai mayoritas pencari harga murah mulai bergerak ke supermarket dan minimarket.

Di sisi lain, kota yang sedang merias wajahnya untuk layak disebut kota mengalami dilema sulit, menata kios dan lapak PKL yang identik dengan kekumuhan, membiarkan tumbuh-kembang supermarket dan minimarket yang bersih dan rapi, sehingga menjadikan wajah kota elok dipandang, bukanlah pekerjaan ringan semudah membalikkan telapak tangan.

Minimarket terus tumbuh tanpa bisa ditolak, perizinan sepenuhnya soal diplomasi dan kemampuan berunding pemilik modal terhadap kekuasaan. Buaian harga murah, kemasan rapi, lengkap, lingkungan bersih dan kenyamanan bagi konsumen saat melakukan transaksi, menjadi magnet yang menyedot pengunjung, sehingga kehadiran pasar-pasar modern terkesan dinanti sebagai sebuah gengsi kota. Ketika kuasa bernegosiasi, rakyat menanti gengsi, maka pedagang tradisional seperti kios dan PKL yang akhirnya menyetiai sepi kemudian perlahan mati.

Dalam kondisi yang semakin ketat, maka pembeli semakin bebas memilih pasar atau pusat perbelanjaan yang mereka sukai. Fenomena maraknya konsumen yang berbelanja ke minimarket atau toko-toko ritel dan menggeser gaya hidup berbelanja di pasar tradisisonal, kios-kios kecil dan kaki lima, salah satunya dipengaruhi oleh harga-harga barang yang dijual, selain dari berbagai fasilitas yang nyaman dan aman.

Menanti Keberpihakan

Persaingan tak sepadan ini hanya bisa diantisapasi dengan pembatasan zonasi lewat kebijakan pemerintah dan perubahan paradigma konsumen. Kebijakan pemerintah harus diarahkan kepada keberpihakan terhadap ekonomi kota yang berbasis usaha kecil dan sektor informal. Jika persoalannya terletak pada kekumuhan pasar tradisional, pemerintah daerah sudah saatnya memfasilitasi penataan, bukan malah menjadi broker tanah bagi para investor yang ingin mendirikan Alfamart dan Indomaret. Menggusur pedagang kecil yang berjualan di trotoar, tetapi terkesan membiarkan para pemilik modal menggusur trotoar dan menjadikannya area parkir.

Jika kendalanya soal harga, maka pemerintah harus melakukan kontrol dan pengawasan ketat, pada peritel modern yang menekan harga terhadap pemasok lokal dengan memotong akses distribusi.

Warga kota juga sudah saatnya bersama-sama untuk menolak pendirian ritel yang akan mematikan usaha-usaha kecil di wilayahnya.

Ayo dukung PKL dan warung tetangga dengan terus menerus mengampanyekan belanja di PKL atau warung tetangga! (RU)







Advertisement