Ragil Utama, Pedagang Kerupuk yang Terancam Tergusur

- August 31, 2017
Sayang, sikap pasrah dan keuletan Ragil dan kawan-kawannya sesama pedagang tidak mendapat perhatian pemerintah yang sering gembar-gembor menjanjikan akan membuka lapangan kerja baru, padahal dengan menggusur tanpa solusi bagi para pedagang kecil itu sama halnya dengan menghilangkan pekerjaan mereka. Pak Wali, boro-boro mau menyediakan lapangan kerja. 


Ragil Utama, nama lengkapnya. Ia adalah fotografer yang tergabung di komunitas Metro Photography. Namun, barangkali sesama fotografer tak banyak yang paham, pemuda  yang sudah meninggalkan kebiasaan merokok sejak tiga bulan yang lalu dan akrab disapa Ragil ini, profesi utamanya adalah pedagang kerupuk di Pasar Pagi Kota Metro.

"Pekerjaan utama saya dagang kerupuk Om, kalau moto itu hobi dan sampingan saja," tegasnya suatu hari, ketika ditemui di tempat berjualan tepat di jalan belakang eks Bioskop Nuban.

Biasanya pukul 03.00 dini hari Ragil sudah mulai bersiap-siap berangkat ke pasar, mengatur lapak tempatnya berjualan, Ia meletakkan meja dan menyusun beberapa jenis kerupuk  di atasnya. Berkat keuletannya berjualan kerupuk itulah, Ia mampu membantu kedua orang tuanya, termasuk membeli sepeda gunung dan kamera.

Ragil memang tak memiliki tempat berjualan permanen, senasib dengan beberapa pedagang lain yang juga menggelar dagangannya di pinggir jalan.

Tak jarang Ragil bersama rekan-rekanya sesama pedagang harus berpindah tempat, karena menurut petugas tempatnya berjualan akan dibangun. Meski begitu, Ragil tak pernah mengeluh bahkan menurutnya Ia tak pernah membantah jika diminta pungutan, baik oleh orang yang mengaku petugas kebersihan maupun petugas pasar.

"Kita berjualan di pinggir-pinggir jalan, jadi tidak permanen Om. Paling kesulitannya, jika kita pindah-pindah, pelanggan menjadi kabur, karena tidak tahu tempat kita yang baru."

Meski Ragil tidak mengeluh, raut sedih di wajahnya tampak jelas ketika Ia menuturkan bahwa awal September 2017 ini mereka sudah diperingatkan Pemerintah Kota Metro untuk pindah. Ragil mengakui belum menemukan tempat yang  strategis untuk menggelar dagangannya, dan bisa dipastikan para pelanggannya yang sudah banyak dan biasa memborong dagangannya dalam jumlah besar akan hilang.

"Pasrah saja Om, mau gimana lagi. Kita rakyat kecil ikut saja. Tiap hari, meski kita tak punya tempat permanen, kita tetap bayar uang kebersihan dan sallari keamanan, sebagai bukti bahwa kita sebenarnya ikut aturan para petugas!" jelas Ragil.

Kata-kata Ragil soal kepasrahan memang terlihat juga dari sikapnya sehari-hari, meski berjualan dari pukul 03.00 dini hari hingga jam 09.00 pagi,  Ia tak pernah meninggalkan salat subuh berjamaah. Dagangannya dibiarkan begitu saja.

"Saya yakin, dengan senantiasa istiqamah di jalan kebenaran dan kebajikan kita tidak mungkin menerima hal-hal yang tak baik. Buktinya, pembeli bisa juga berlaku jujur meskipun tidak dijaga, mereka mengambil kerupuk dan menaruh duit bayarannya di lapak. Kalau ada yang kurang, ya wajarlah. Tak semua bisa diharapkan baik dan jujur, tapi saya berusaha memaafkan dan mendoakan mereka, termasuk mendo'akan orang-orang yang mendzalimi saya," cerita pria yang akan berulang tahun ke-22 tahun tanggal 17 September nanti.

Sayang, sikap pasrah dan keuletan Ragil dan kawan-kawannya sesama pedagang tidak mendapat perhatian pemerintah yang sering gembar-gembor menjanjikan akan membuka lapangan kerja baru, padahal dengan menggusur tanpa solusi bagi para pedagang kecil itu sama halnya dengan menghilangkan pekerjaan mereka. Pak Wali, boro-boro mau menyediakan lapangan kerja.

Sabar ya Ragil, mudah-mudahan mereka yang membaca cerita ini tertarik untuk menyediakan lapak permanen untuk berjualan kerupukmu, dan para orang tua yang mau menikahkan anaknya, mau menggunakan jasamu untuk mengabadikan momen pernikahan. 
Advertisement