Omong Kosong Metro Convention Center (MCC)

- August 28, 2017

Sehebat dan semegah apapun pembangunan MCC, mendukung apalagi tidak mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menyentuh langsung warga miskin adalah ‘omong kosong' apalagi jika di kemudian hari gedung MCC itu melahirkan banyak masalah seperti kemacetan, banjir dll. Ingat, program-program antikemiskinanlah yang mampu mengentaskan orang miskin, bukan akibat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari gedung-gedung megah dan mengundang banyak investor ke Kota Metro!


Disfungsi Pembangunan

Disfungsi adalah tidak berfungsi secara normal atau terganggu fungsinya. Seperti disfungsi seksual atau disfungsi ereksi, dalam dunia kesehatan selalu dimaknai sebagai kesulitan membangunkan alat vital atau terganggu/mengalami kesulitan ereksi  jika berhadapan dengan pasangannya tetapi tidak menjadi normal ketika berhadapan dengan perempuan/laki-laki lain.

Jadi, jika dihubungkan dengan pembangunan, disfungsi pembangunan adalah tidak berfungsi atau terganggunya fungsi pembangunan karena dianggap tidak mengacu pada tujuan pembangunan nasional yakni untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan dan melindungi segenap bangsa. Atau bisa juga diberikan pengertian bahwa disfungsi pembangunan adalah kesulitan ereksi kekuasaan jika berhadapan dengan kebutuhan rakyat kecil alias kuasa tak pernah lagi berpihak pada kesejahteraan umum rakyat.

Contoh kasus, kebijakan pembangunan ruko di sepanjang jalan utama di Kota Metro, atau rencana pembangunan Metro Convention Center (MCC) misalnya, memicu pertanyaan kritis benarkah kita (warga kota) membutuhkan gedung super mewah dan besar yang dibanguan dengan rencana biaya lebih dari 30 milyar rupiah itu? Benarkah kita yang hidup di pinggiran kota lebih membutuhkan gedung daripada saluran irigasi yang baik, akses jalan yang tidak berlubang? Benarkah pusat kota kita lebih butuh bangunan megah daripada pedestrian atau jalur pejalan kaki yang bisa dibangun sepanjang Jl AH. Nasution (antara pohon Mahoni - pagar)?

Apakah kemajuan pembangunan kota harus selalu ditandai dengan ruko-ruko yang dijejer sepanjang jalan utama, membangun beton-beton besar dengan mengabaikan pertanyaan sejauhmana signifikan dan relevansinya bagi warga kota? Apakah masyarakat memerlukan itu (menjadi kebutuhan prioritas warga)? Abai atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjadikan pembangunan tidak (lagi) berbasiskan kebutuhan. Akibatnya, ke depan pembangunan yang tak berbasis data dan kebutuhan tersebut bisa melahirkan penyesalan yang melahirkan dampak ikutan, bongkar-pasang pembangunan!

Begitulah disfungsi pembangunan itu terus menerus dipertontonkan. Pemerintah tak pernah lagi ereksi terhadap warga (mendedikasikan pembangunan untuk kesejahteraan warga kota), pemerintah lebih asyik-masyuk selingkuh dan bercumbu dengan para pengembang, ereksi untuk kepuasan dan kesejahteraan pemodal.

Pembangunan semestinya tidak boleh dimaknai secara parsial, membangun fisik kota tapi mengabaikan manusianya. Amartya Sen mengintroduksi definisi baru soal pembangunan sebagai kebebasan (delevoment as freedom) dalam bukunya Develoment as Freedom (2000). Bagi Sen, pembangunan bukan hanya soal menuntut pendapatan per kapita yang lebih tinggi yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya indikator pembangunan, tetapi pembangunan harus selalu mengacu pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Sen dalam studinya merumuskan bahwa pembangunan harus menyelesaikan persoalan warga lokal, terutama kemiskinan, bukan malah sebaliknya mengundang banyak investor yang justeru mencekik kehidupan ekonomi penduduk lokal. Untuk itu, Sen merumuskan kembali pengertian kemiskinan yang dalam pandangannya, kemiskinan adalah berbagai kondisi, selain kekurangan pangan, seperti kurangnya nutrisi, buta huruf, tiadanya kebebasan sipil dan hak-hak berdemokrasi, diskriminasi, pengidapan penyakit, dan berbagai bentuk perampasan hak-hak milik (entitlement) pribadi adalah bentuk-bentuk kemiskinan yang menciptakan penderitaan, dan itulah yang harus diselesaikan pertama dan utama dalam kebijakan pembangunan.

Narasi tentang “kampung kejepit” adalah fenomena dari maraknya pembangunan yang mengabaikan kemanusian dan warga lokal. Pemerintah seolah-olah menutup mata, bahwa ada banyak penduduk yang rumahnya terhimpit di antara beton-beton yang terus ditegakkan, sehingga akhirnya mereka menjadi tidak nyaman dan terpaksa menjual pekarangan dan rumahnya dengan harga murah, kemudian pergi ke pinggiran-pinggiran kota. Dan setiap saat fenomena itu terus bermunculan, penghuni kota atau warga lokal pelan-pelan terus terdesak ke pinggiran akibat pembangunan yang mengabaikan warga lokal.

Fenomena dan konteks pembangunan seperti ini menjadi kritik sekaligus perhatian Sen untuk kembali meletakkan soal pembangunan pada posisi redistribusi aset non-fisik. Pemberdayaan politik masyarakat, melalui media sosialisasi yang cerdas, tidak membodohi, tidak memanipulasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Melibatkan warga sejak awal, sehingga pembangunan betul-betul ditujukan untuk pemenuhan kebutuah warga kota, bukan melibatkan warga setelah pembangunan dilaksanakan, dan warga diminta untuk mengangguk, baru dilibatkan untuk merawat dan mengurusnya.

So?

Apapun yang pemerintah Kota Metro lihat di luar sana, tentang perencanaan, penataan dan pembangunan kota lain, tetapi tetap abai dengan data dan kebutuhan dasar warga kotanya, maka kebijakan pembangunan secanggih dan sehebat apapun, akan menjadi pembangunan yang tak fungsional dan akhirnya terbengkalai dan mubazir. Karena, bagaimanapun kota tetap memiliki karakternya sendiri termasuk karakter dan kebutuhan warganya, yang sama sekali berbeda dengan karakter dan kebutuhan warga di kota lain.


Dan, sehebat dan semegah apapun pembangunan MCC, mendukung apalagi tidak mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menyentuh langsung kebijakan bagi warga miskin adalah ‘omong kosong' apalagi jika di belakang hari gedung MCC itu melahirkan banyak masalah seperti kemacetan, banjir dll. Ingat, program-program antikemiskinanlah yang mampu mengentaskan orang miskin, bukan akibat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari gedung-gedung megah dan mengundang banyak investor ke Kota Metro!