Proses dan Kenikmatan

- August 26, 2017
Kesetiaan, Omah1001

Pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya kenikmatan hidup, dimanakah letak kenikmatan, dan bagaimana cara menikmatinya? Lantas, berturut-turut pula mengajukan pertanyaan, kenapa orang bersusah payah membeli dan meminum obat kuat, sehingga bisa bertahan lama saat berhubungan seks, bukankah puncak kenikmatan dari seksualitas itu adalah ejakulasi atau orgasme?

Obat kuat sebenarnya bisa menuntun kita untuk menemukan arti dan hakikat kehidupan. Paling tidak, mengkonsumsi obat kuat itu mengajarkan dua hal yang penting tentang hidup. Pertama, bahwa proses yang panjang dan lama itu asyik dan menyenangkan, sampai di puncak (orgasme) sama sekali tidak nikmat, bahkan menjengkelkan jika prosesnya dilalui begitu cepat, akibatnya lemas dan kehilangan tenaga. Kedua, orang lain begitu sangat berarti dalam pencapaian kenikmatan itu, betapa kita merasa gagal menjadi 'laki-laki', merasa terhina dan tak memiliki harga diri jika mengalami peltu (nempel metu), ejakulasi dini atau gagal ereksi meskipun tetap bisa mencapai orgasme. Betapa pentingnya kepuasan orang lain dalam hal ini pasangan kita.

Lantas kenapa dalam hidup, banyak orang berprilaku instan? Ingin sampai ke puncak kesuksesan dengan mendatangi dukun, melihara tuyul, menyuap, cari muka dan laku instan lainnya yang serba ingin cepat. Bukan hanya itu, praktek kehidupan yang paradoks juga betapa banyak orang atau bahkan kita abai terhadap kepuasan, kesuksesan orang lain, padahal pada praktek konsumsi obat kuat pengabaian terhadap kepuasan orang lain, bisa bermakna menjatuhkan harga diri dan memalukan.

Orang memang telah gagal memaknai hidup, banyak orang menciptakan hunian mewah dengan tembok kokoh dan pagar yang tinggi, yang secara sadar atau tidak, merupakan upaya dia untuk membatasi pergaulan hidupnya dari dunia yang lebih luas dari bangunan rumah yang ia bangun, ia membangun penjara dan keterasingan. Sehingga lambat laun dia menjadi teralienasi dari lingkungannya.

Suatu ketika, aku pernah bertemu orang kaya. Aku menanyakan, apakah dia punya keturunan atau tidak? pertanyaan yang sebenarnya tak perlu aku ajukan, karena aku tahu dia punya dua anak. Dia tak menjawab pertanyaanku yang menurutnya tak penting itu, sehingga ku lanjutkan pada pertanyaan berikutnya, apakah anakmu suatu saat akan menikah, dan kamu menginginkan pestanya dihadiri oleh tetangga-tetanggamu atau orang banyak lainnya? Tentu saja. Apakah kamu sadar suatu ketika kamu akan mati? Dan pernahkah kamu membayangkan, betapa senangnya kamu melihat orang-orang yang meninggal dunia dilayat banyak orang, dido'akan banyak orang, dan diantar ke pemakaman oleh banyak orang?

Jika jawabannya adalah iya, dan kita memiliki jawaban sama, kemudian pertanyaannya adalah, kenapa kita mesti membatasi pergaulan, pertemanan pada jumlah yang sedikit? Kenapa kita harus melakukan pengingkaran terhadap kodrat kita sebagai makhluk sosial yang selalu memiliki ketergantungan pada manusia atau bahkan makhluk yang lain, ketergantungan dalam pengertian saling membutuhkan, sekaya dan sehebat apapun kita.

Kembali belajar dari obat kuat, bahwa kenikmatan itu tentu saja bukan di hasil akhirnya, hasil adalah konsekuensi yang pasti dari ikhtiar-ikhtiar, jika kita sabar untuk terus mendaki, maka kita akan sampai ke puncak, kenikmatan itu adalah seluruh rangkaian proses menuju puncak itu, bagaimana kita memompa semangat, menata kesabaran, merawat mimpi-mimpi dan menjaga optimisme.

Bukan hanya itu, kenikmatan hidup itu tak boleh mengabaikan lingkungan sosial, sebagaimana kita tak boleh mengabaikan pasangan kita saat hendak pencapain orgasme, jika tidak kita akan merasa tidak memiliki harga diri dan terhina, kita tak akan pernah bisa disebut kaya dan sukses, jika hanya kita sendiri dan keluarga yang menikmati kesuksesan itu, kesuksesan besar adalah ketika mampu menularkan kenikmatan-kenikmatan hidup seperti yang kita rasakan kepada orang lain, kita akan merasa gagah dan memiliki harga diri hebat jika tidak mengabaikan orang lain.

Obat kuat akhirnya mengajarkan dua hal penting tentang pemaknaan hidup yang normal, bagaimana kita menjalani hidup secara tidak instan, berbangga dengan proses yang panjang, bersabar menata mimpi dan merawat optimisme, sekaligus bagaimana kita tak abai pada kepuasan orang lain, sehingga kita bisa sukses bersama dengan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada yang lain, dan bahwa cara hidup instan dan mengabaikan orang lain adalah abnormal, tidak memiliki harga diri dan hina.