Ego dan Narsisme

- August 26, 2017
Ego, Narsisme dan Ajakan Telanjang, OMah1001

Saat ini berkembang kebiasaan mengagumi diri sendiri secara berlebihan dan merasa paling benar, paling pintar dan cerdas, paling gagah, paling baik, paling keren, paling alim dan paling sejenis lainnya. Kebiasaan ini tanpa disadari akan mengikis sikap menghargai dan memahami orang lain dan cenderung menuntut untuk selalu dihargai dan dimengerti.

Gejala yang paling mudah untuk mendeteksi kebiasaan seperti ini adalah sikap anti-kritik, atau sikap bertahan dengan melakukan pembenaran-pembenaran atas kebiasaan tersebut, atau jika dikritik maka akan melakukan kritik balik. Semisal, jika ia dikritik "kok akhir-akhir ini kamu tidak memiliki kepedulian?", maka ia akan membalas, "Memangnya kamu peduli?"

Sikap selalu merasa "paling" ini sering dikenal dengan istilah ego atau keakuan. Menurut Jeffrey Nevid (2005; 40-45), ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustasi. Ego diatur oleh prinsip realitas yang berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin, sebagai dorongan dari id. Ego terikat dalam proses berpikir sekunder -mengingat, merencanakan, dan menimbang situasi yang memungkinkan kompromi antara fantasi dari id dan realitas dunia luar. Ego meletakkan dasar untuk perkembangan yang disadari tentang perasaan diri sebagai individu yang berbeda.

Sigmund Freud mengatakan bahwa ego merupakan satu bagian dari aparatus psikis dalam model struktur jiwa, dua bagian lainnya id adalah himpunan tren insting tidak terkoordinasi, ego adalah bagian, terorganisir realistis, dan super-ego memainkan peran kritis dan moral. Dominasi ego, akan melahirkan mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan yang berpeluang lahir dari ego adalah menganggap orang lain atau pendapat lain sebagai pihak yang mengancam.

Ego seperti ini akan sangat berbahaya, jika beranggapan orang lain dan kelompok lain sebagai ancaman, karena akan selalu melahirkan ketegangan-ketegangan baru, sehinga menjadikan hubungan atau relasi kemanusiaan tidak berjalan normal, dan sikap untuk meniadakan dan memusnahkan adalah hal yang paling berbahaya dari sifat ego ini.

Ali Syariati mengategorikan ego sebagai penjara, selain . Bagi Syariati ego adalah penjara yang sangat berat untuk dihadapi manusia karena ia berada dalam diri manusia. Bangkit dari penjara yang ada dalam diri merupakan tugas yang sangat menantang, terutama sekali pada abad ilmu dan teknologi sekarang ini. Belum pernah sebelumnya manusia begitu lumpuh, lesu, dan tanpa harapan dalam penjara ini. Dalam penjara ego tentunya sangat jauh berbeda dengan penjara yang lain, karena manusia mengalami abdsurditas. Absurditas yang dirasakan manusia tidak lepas dari setelah pemenuhan segala hasrat, nalurinya. Pemenuhan instinsif manusia mengantarkan manusia pada kelupaan dimensi dalam diri yang paling sublim yakni realitas rohani.

Selain ego, belakangan juga berkembang sifat kagum terhadap diri sendiri, kagum atas sifat, sikap dan ucapan sendiri, bahkan kagum atas kecerdasan dan spritualitasnya, kekaguman terhadap sikap sendiri ini dalam bahasa agama disebut takabur, dan dalam pergaulan dikenal dengan istilah narsis. Narsis ini melahirkan perilaku selfie, spiritualitas narsis, intelektual narsis, dan narsis-narsis sejenis, yang intinya menghilangkan kekaguman dan kebanggaan terhadap yang lain kecuali kekaguman terhadap diri sendiri.

Narsisisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud (1914) dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis.

Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal. Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan. Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya sebagai yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain.

Selain itu, seseorang dengan sifat narsis yang berlebihan memiliki kecenderungan untuk meninggikan dirinya di hadapan orang lain, menjaga harga dirinya dengan merendahkan orang lain saat orang lain memiliki kemampuan atau hal yang lebih baik darinya, bahkan tidak segan untuk mengasingkan orang lain untuk memperoleh kemanangan.

Mengoreksi Diri

Sikap membanggakan dan mengagumi diri sendiri secara berlebihan dan menganggap orang lain lebih rendah (ego dan narsis), secara sederhana sebenarnya bisa dikikis dengan upaya menelanjangi diri sendiri. Cobalah sesekali berdiri telanjang di depan cermin besar, lihatlah hal yang paling privat yang selama ini ini disembunyikan dan dikhawatirkan diketahui orang lain (aib), lihatlah hal paling terburuk dari cacat diri, hingga menembus kelakuan-kelakuan yang metafisika, pikiran-pikiran kotor dan jorok, kecenderungan-kecenderungan jahat yang ditutupi, dan kemudian jujurlah untuk memberikan nilai pada point-point tersebut tanpa rasa takut dan malu.

Apa yang terjadi? Ternyata kita akan menemukan sosok kedirian yang tidak utuh, tidak melulu baik, bahkan jika dipertimbangkan, jangan-jangan lebih banyak hal yang lebih memalukan untuk diketahui orang lain, daripada hal-hal yang membanggakan dan tampak baik. Tidak Sempurna! Itulah hal yang lebih manusiawi, kita berada pada porsi di tengah, antara kelebihan dan kekurangan yang menempel secara lekat.

Manusia, sebagaimana hakekatnya bukanlah makhluk yang dilahirkan dan dikehendaki sempurna oleh Tuhan, meskipun penciptaannya dengan sebaik-baik bentuk (ahsanu al taqwim), pengakuan manusia sebagai makhluk yang gemar berkeluh kesah, salah dan lupa, dan pemberian ruang permaafan atas segala kelalaian, menjadi penunjuk jelas, bahwa yang diperlukan adalah tingkat kesadaran untuk mengambil pelajaran dari setiap perjalanan kesalahan-kesalahan menuju pada kebenaran-kebenaran yang dinamis dan tak pernah selesai.

Ali Syariati menilai pada dasarnya manusia lahir dari dua hakekat yang berbeda; tanah bumi dan ruh suci. Dalam bahasa manusia tanah (lumpur) adalah simbol kerendahan, kenistaan serta kekotoran. Dan tidak ada satupun dalam alam semesta ini yang paling rendah dan hina selain dari pada lumpur. Disisi lain dalam bahasa manusia, Tuhan adalah Maha Sempurna dan Maha Suci, dan dalam setiap mahluk bagian yang paling sempurna, paling murni dan paling suci adalah spirit Maha Sempurna.

Manusia adalah makhluk dua dimensi yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, yang hanya diciptakan dalam satu dimensi. Manusia adalah sintesa dari dua dimensi tersebut, sehingga dari dua sintesa inilah kemudian manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup apakah manusia ingin menuju kepada kerendahan, kenistaan atau menuju kepada kesempurnaan. Ketika manusia cenderung kepada Ruh Ilahi maka dia memilih regersif menuju dan “menyatu dengan tuhan” namun jika yang cenderung dari manusia adalah kepada tanah maka disinilah manusia mengalami kerendahan dan kehancurannya karena manusia tidak lebih seperti binatang.

Sekali lagi, saya dengan penuh kesadaran mengajak untuk berdiri telanjang di depan cermin, memeriksa segenap bagian kedirian kita, apakah masih tersisa panu, kurap, kudis dan penyakit-penyakit memalukan lainnya, bukan hanya pada fisik yang lahir, tetapi juga pada hati dan pikiran kita, apakah pikiran dan hati itu berkudis, berpanu dan kurapan.