Home » » Mematri Kembali Semangat Insan Cita HMI

Mematri Kembali Semangat Insan Cita HMI

Diposting oleh Omah1001 I Ruang Inspirasi on Monday, February 5, 2018


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus kembali mengakar kepada sejarah tujuan kelahirannya sebagai organisasi mahasiswa, mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dan menyebarluaskan syi’ar Islam. Di usia, yang cukup renta ini, menjelang umur 71 tahun(5 Februari 1947 – 5 Februari 2016), HMI telah banyak berkontribusi positif atas perjalanan sejarah bangsa ini,  meski tak perlu menghindar atas tuduhan, jika alumninya juga banyak berkontribusi atas kerusakan bangsa ini. Hal itu, lumrah saja sebagaimana juga organisasi lain.

Namun, sebagai organisasi mahasiswa tertua semestinya HMI menjadi referensi dan representasi organisasi kemahasiswaan, menjadi teladan yang baik, bukan sebaliknya, menjadi cemooh dan teladan yang buruk karena lebih sering rusuh, memaksakan kehendak dan sewenang-wenang, karena merasa lebih mapan dengan deretan nama-nama alumni di struktur kekuasaan.

HMI pantas bangga dengan raihan prestasinya, tetapi sudah saatnya berhenti dan terlalu lama terdiam mengeja dan membangun romantisme kesejarahan tentang kehebatan dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. HMI sudah saatnya - meminjam istilah Imam Ali RA - berkataini dadaku, ini aku!” bukan berkata “itu kakekku, bapakku, seniorku!!

Jika dulu HMI sengaja dibentuk untuk ikut terlibat dalam perjuangan mempertahakan kemerdekaan negara, mengusir penjajah dari bumi nusantara, maka, untuk konteks hari ini HMI harus menjadi bagian kelompok dari perjuangan rakyat berjuang melawan penjajahan para koruptor, perampok sumber daya alam Indonesia, termasuk para makelar hukum. Intinya, HMI harus ada bersama rakyat sebagai kelompok mustadhafien untuk melawan kedzaliman dan kelaliman kekuasaan.

HMI harus mampu mengidentifikasi diri sebagai solusi atas kebuntuan dan kejumudan isu-isu kebangsaan, HMI harus menjadi corong jeritan kepedihan kaum mustadhafien, karena sesungguhnya kelompok tertindas inilah yang harus menjadi basis perjuangan dan gerakannya. Banyaknya kepentingan kelompok alumni HMI tidak boleh menjadi referensi apalagi menjadi kiblat agenda aktifitas HMI dalam menjalankan programnya, pertemuan HMI dengan kepentingan alumni hanyalah pertemuan di titik-titik kebajikan dan kebenaran universal, jika kebajikan dan kebenaran itu lebih dominan dimiliki oleh alumni, maka ia boleh untuk lebih sering bertemu, dan sebaliknya.

Hegemoni Alumni

Para alumni yang telah melewati masa-masa panjang perjuangan di HMI, berubah menjadi kelompok baru yang mapan, sebagaimana wataknya, kemapanan selalu berusaha untuk memperluas pengaruh untuk mempertahankan posisinya pada zona nyaman. Watak status quo inilah yang akhirnya menggeser idealisme para mantan aktivis mahasiswa pada jalan perjuangan sebelumnya. Nikmat kekuasaan yang melenakan, menjadikan mereka berusaha membenamkan kuku hegemonik pada yunior-yuniornya di kampus.

Mengacu pada istilah hegemoni yang dibangun Gramsci (1891-1937), alumni HMI berusaha melakukan doktrin, menafsir tentang kebaikan, kesuksesan dan kebenaran secara berulang-ulang dengan parameter materi, jabatan dan prestise.

Ideologi baru yang didesakkan dalam rentang yang cukup lama, disebarluaskan pada diri kader baik secara institusional maupun perorangan, mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral, akhirnya melahirkan sebuah pandangan hidup dan cara pikir kader yang lebih dominan, bahwa muara perjuangan itu adalah materi dan jabatan, kader yang sukses adalah kader yang menjadi apa, tak penting bagaimana dan dengan cara apa.

Meski tak semua alumni dan kader HMI mengamini itu, tetapi hegemoni yang begitu besar membuat kelompok kecil dan minoritas alumni dan kader HMI yang setia dengan independensi etis HMI, tidak bisa berbuat apa-apa, karena kelompok alumni mapan bukan hanya melakukan hegemoni lewat pengaruh support materi (modal), kekerasan fisik, lebih jauh hadir dalam kaderisasi memasukkan ideologi-ideologi baru dan menyimpangkan ideologi dasar HMI sebagai organisasi perjuangan dan kader, sehingga proses dominasinya semakin besar.

Rekonstruksi Semangat


Tanggal 914 Februari nanti, HMI akan melaksanakan Kongres ke-30 di Ambon, pastilah ada banyak dinamika baik di internal HMI maupun di eksternal organisasi. Namun, jika boleh urun diskusi, saya mengajukan dua hal fundamental untuk mengembalikan HMI pada semangat khairu ummah, yang bertanggungjawab menyampaikan kebajikan universal, meneguhkan konsistensi (keimanan) pada jalan perjuangannya.

Pertama, secara internal HMI harus menunjukkan kapasitas dan integritasnya kepada publik dengan mengembalikan kader pada cita-cita idealnya (insan cita), akademis, pencipta, pengabdi, islami (relegius) dan kader yang bertanggungjawab (khalifah fil ardh)untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah.

Meskipun insan akademis tak melulu harus unggul secara intelektual dengan deretan gelar-gelar akademis, tetapi minimal bisa menunjukkan kembali kedekatan kader dengan tradisi literasi, membaca, berdiskusi dan aksi.

Implementasinya, (semisal) bisa terlibat atau bahkan menginisiasi gerakan literasi nasional, mengagendakan penerbitan buku setiap bulan, setiap jenjang training formal HMI, LK I dan LK II setiap paper yang dibuat oleh peserta dibukukan, lomba review buku skla berkala, atau bahkan melakukan pertemuan nasional para kader pecinta buku dengan menggandeng penerbit, dan agenda-agenda serupa yang lain yang dikemas kreatif.

Kecintaan kader terhadap pengetahuan akan berdampak pada kesadaran pikir dan tindakan yang rasional, sehingga keberpihakan mereka terhadap kebenaran dan kebajikan universal akan terbangun secara otomatis. Skemanya HMI akan bergerak dari tradisi tuna ilmu (jahiliyah) menuju tradisi rasional yang berujung pada tradisi relegius. Jika ini dilakukan secara masif dan terstruktur oleh 200 cabang lebih, maka bukan hal mustahil sebuah peradaban baru akan kembali lahir.

Kedua, secara eksternal, forum kongres mengeluarkan rekomendasi yang fundamental terhadap keberlangsungan kehidupan bangsa. Rekomendasi yang didasarkan pada data dan fakta yang selama ini menjadi diskursus, dikaji dan dirasakan oleh para keder HMI, sehingga rekomendasi-rekomendasi tersebut tidak berakhir di lembar-lembar hasil kongres yang kemudian dirongsokkan ke tong sampah.

Ada banyak masalah kebangsaan yang memerlukan kehadiran para aktivis HMI, mulai persoalan agraria, ketegangan antara pemodal dan rakyat miskin, isu seputar kesehatan dan pendidikan yang tak pernah adil dan berpihak kepada rakyat jelata, dan isu-isu lain yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh para kader HMI.

Selain itu, rekomendasi yang tak kalah pentingnya adalah reposisi relasi HMI-Alumni pada garis yang tegas. Sebuah posisi yang harus bisa mengukuhkan HMI sebagai organisasi independen, yang mampu berdiri tegak di mana saja, dan saat berhadapan dengan siapa saja, termasuk alumni.

Secara pribadi, saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan isu ishlah, biarlah HMI tetap menjadi dua, toh meskipun ada dua ia akan tetap bersenyawa dan bersama dalam merespon isu-isu kebangsaan, HMI tetap memiliki satu nilai dasar perjuangan, HMI tetap memiliki tafsir yang sama terhadap kebenaran dan kebajikan, memiliki kesepakatan yang sama soal perwujudan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Namun, sekali lagi ini hanyalah seonggok harapan.

Akhir kalam, semoga insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT segera tercipta, selamat milad ke-71 dan selamat berkongres himpunanku.


Terimakasih telah membaca & mau berbagi Omah1001 I Ruang Inspirasi

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Blog Madridista

Popular Post

Instagram

Teman Blogger

Follow by Email

Total Pageviews