Home » » Demokrasi Kita : Cerita Rindu Nan Semu

Demokrasi Kita : Cerita Rindu Nan Semu

Diposting oleh Omah1001 I Ruang Inspirasi on Tuesday, February 13, 2018

Senja, Rindu nan Semu

Kita pernah bertemu dalam pesan-pesan rindu yang terkirim secara berkala, terukir lewat baris-baris kata, aku hanya bisa berfantasi membayangkan tentang kebersamaan, kau juga bercerita tentang mimpi masa depan yang penuh kebahagiaan.

Kita tak pernah terpikir bagaimana cara bertemu, padahal engkau jauh di ujung Timur, sedangkan aku berada di sebelah Barat. Engkau pernah menulis soal rindu di ujung senja, senja yang menurutmu sama dengan senja yang ku nikmati, kala itu aku mengiyakan, sebelum akhirnya paham bahwa senja kita berbeda, kala engkau bilang senja, sesungguhnya di tempatku masih sangat terik, dan kala senja di tempatku, di tempatmu telah gulita.

Ketika kita dijejali oleh kesumat rindu, surat-surat indah penuh cinta yang pernah kita tulis itu menjadi mantra. Kita sebenarnya memang tak pernah mengimani pertemuan, kita terlalu asyik dengan cerita indah yang kita tulis dalam surat selama bertahun-tahun.

Hingga,, suatu ketika, kala kita sudah tak mungkin bertemu, barulah kita sama memiliki rencana, rencana tentang hal yang tak mungkin. Kita baru sadar, bahwa bahagia itu harus dilakoni, bukan dihayalkan, bukan hanya ditulis dalam surat-surat yang kini telah usang itu.

Tapi, tak apalah katamu! Tak lagi lewat surat yang kau tulis dengan gurat tanganmu kemudian kau kirim lewat pos, tetapi kini lewat pesan pendek tak berbayar, yang sampai dalam sekejap di layar telpn selulerku. Cepat tetapi tak nikmat, tak ada senyum-senyum dalam kesendirian ketika menanti, tak ada debar jantung saat detik-detik membuka amplopnya.

"Tak apa, toh pasangan tak mesti bergandeng, rindu tak harus bersama." Begitu pesan kedua yang ku terima darimu.

Seperti Barat dan Timur, seperti pagi dan senja, seperti langit dan bumi, seperti siang dan malam, pasangan yang hingga kini bertakdir untuk tak bertemu.

Begitulah, kata-kata yang kita sepakati menjadi mantra baru sebagai penghibur. Hiburan atas kegagalan kita, mantra untuk mengeringkan luka agar tak terlalu menganga, meski lamat-lamat perihnya tetap terasa menghunjam ulu hati.  

Seperti demokrasi, demos dan kratos, kekuasaan (kedaulatan) dan rakyat, sering bergandeng tapi tak bersama.

Itu adalah tema diskusi yang sekaligus menjadi bait terakhir mantra penenang kita. Dan, akhirnya, juga menjadi pesan terakhir yang ku terima dari mu, sebelum telpon gengggamku diambil pencopet di depan toko sembako di sebuah jalan lintas, yang aku singgahi dalam sebuah perjalanan, untuk membeli air mineral.

Selain untuk mengenangmu, mantra itu, kini ku rapal bukan lagi semata untuk menjadi penawar gundah gulana, melainkan untuk mengeja setiap baris kehidupan dalam negeri ini.

Baris para pencopet yang akhirnya berjasa menghilangkan satu cara menghubungimu, hingga baris kelompok-kelompok elit yang piawai memainkan simbol-simbol alit dan kejelataan. Barisan yang dengan sangat fasih mengkhotbahkan soal kedaulatan rakyat, demokrasi, kesejahteraan rakyat, kata yang menurutmu bergandeng tapi tak pernah bertemu di alam nyata.

Kini aku paham, bahwa kita, aku dan kamu, adalah sepasang kekasih yang memang tercipta untuk menjelaskan bahwa cinta dan rindu tak mesti bersama, seperti narasi konstitusi soal rakyat dan kuasa, rakyat sebagai pemegang kekuasaan (kedaulatan) tertinggi, demokrasi, hanyalah istilah, cuma dagangan, dan senyatanya kesejahteraan dan rakyat, kedaulatan dan kaum alit, kemiskinan dan kekuasaan, adalah seperti ufuk barat dan timur, seperti siang dan malam, seperti langit dan bumi, tak akan pernah bisa bertemu.

Manalah mungkin, pasar bebas menjadi gelanggang yang fair untuk pertarungan sabuk putih dan hitam, alit dan elit, yang benar saja, proyek demokrasi bernama liberalisasi politik dan pemilu itu, bisa menjadi arena berebut kekuasaan yang setara antara pemilik pasar dan tukang sapu pasar. Ada-ada saja!

Dulu, kita sering mengeja bahwa jodoh tak akan ke mana, cinta tak harus memiliki, jimat yang ampuh untuk membuat kita sama-sama bertahan, menerima takdir yang tak diperjuangkan, kita memberikan kesimpulan atas jimat yang entah siapa pembuatnya itu, bahwa jika memang jodoh, maka pastilah kita bersama, jika toh tidak, cinta memang tak harus memiliki. Cuiihhhh...

Kita tertidur, karena sirep mantra pendek itu. Tapi tak apa, toh akhirnya aku paham, bahwa kita adalah tafsir atas setiap baris kehidupan di negeri ini. Kita adalah narasi yang harus mampu menjelaskan, bahwa kemiskinan itu bukan nasib, kesejahteraan itu bukan soal jodoh dan kerelaan untuk tak memilikinya, ia harus diperjuangkan, dan harus dicari ke manapun.


Begitu kan? Iya, karena jika tidak, maka kita, aku dan kamu, bukan hanya sekadar akan kehilangan telpon genggam, tetapi barisan elit yang pandai mengkhotbahkan soal kesejahteraan itu, seperti tukang obat di pasar-pasar tradisional, akan mencopet harapan-harapan kita.

Terimakasih telah membaca & mau berbagi Omah1001 I Ruang Inspirasi

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Blog Madridista

Popular Post

Instagram

Teman Blogger

Follow by Email

Total Pageviews